Tantangan Ekonomi Sirkular: Laju Daur Ulang Kemasan Plastik Harus Terus Ditingkatkan
Info Kemasan
15 September 2026 5 MIN BACA

Tantangan Ekonomi Sirkular: Laju Daur Ulang Kemasan Plastik Harus Terus Ditingkatkan

Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah yang besar terkait pengelolaan sampah kemasan plastik. Berdasarkan catatan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan riset ESG (Environmental, Social, and Governance) terbaru pada Juli 2026, timbulan sampah plastik di Indonesia mengalami peningkatan hingga 20 persen dalam kurun waktu 2020-2025. Sayangnya, lonjakan volume ini belum diimbangi dengan laju daur ulang (recycling rate) yang memadai.

Hingga awal tahun 2026, target nasional daur ulang kemasan plastik dinaikkan menjadi 20% dari baseline awal yang hanya berada di angka 9,16%. Ketimpangan antara produksi kemasan dan proses daur ulang ini mendorong pemerintah dan pihak swasta untuk semakin gencar menerapkan sistem Eco-Modulation dan memperkuat konsep "Ekonomi Sirkular".

Sebagai pelaku usaha yang sehari-hari membutuhkan kemasan pengiriman, Anda bisa mengambil peran nyata dalam mengatasi isu ini. Memilih produk kemasan dari plastik hasil daur ulang (Recycled PET/rPET), menggunakan ukuran plastik pelindung (bubble wrap atau polymailer) yang presisi agar tidak membuang material, serta mengedukasi konsumen untuk menyetorkan sisa kemasan ke Bank Sampah lokal adalah langkah cerdas. Kolaborasi antara produsen kemasan, pebisnis, dan konsumen adalah kunci utama menekan penumpukan limbah plastik di masa depan.

Sumber Berita: Republika ESG Now (21 Juli 2026) & Amdatara (14 Maret 2026).
Kembali ke Berita